Lahat – Seorang operator dozer, Saripudin (47), bersimbah darah setelah rekannya, Dwi Saputra Mansyah (34), operator excavator, menikamnya secara brutal di area kerja PT Berkah Daya Sukses (BDS). Perusahaan yang menjadi tempat mereka mencari nafkah itu berubah menjadi lokasi kejadian berdarah.
Peristiwa itu bermula saat Saripudin merawat jalan loading. Pada saat yang sama, excavator yang dikemudikan Dwi tiba-tiba menghalangi laju dozer milik Saripudin. Keduanya lalu terlibat adu mulut. Suasana semakin memanas. Tanpa diduga, Dwi mengambil sebilah pisau dari dalam tasnya lalu menyerang Saripudin. Pisau itu menimbulkan luka sayatan di pipi kanan dan di bawah telinga kanan korban.
Saat dijumpai awak media, Dwi Saputra Mansyah mengaku sudah lama menyimpan dendam. Ia menjelaskan, sejak ibunya meninggal dunia saat ia masih duduk di kelas dua SMP, ia menyimpan dendam kepada Saripudin. Menurut pengakuannya, pada waktu itu Saripudin menghamburkan serpihan batu bata yang diduga menjadi penyebab ibunya mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia.
Pengawas perusahaan, Septian, berhasil menghentikan aksi brutal tersebut. Ia langsung melerai kedua belah pihak meskipun korban sudah berlumur darah. Korban yang berada dalam kondisi kritis segera dilariakan ke RSUD Robain Muara Enim. Saat proses peleraian dan pengangkutan ke rumah sakit, pelaku sempat melontarkan kata-kata, “Mati kau kali ini.”
Keponakan korban, Tiara, langsung menghubungi pihak kepolisian. Polsek Merapi Barat, Polres Lahat, yang dipimpin Iptu Edwar Habibi, ST., MM., bergerak cepat. Tim Reskrim Polsek Merapi Barat segera memburu pelaku. Dwi sempat pulang ke rumah sambil membawa pisau yang digunakan dalam peristiwa itu untuk menghilangkan barang bukti. Ia juga membawa anak dan istri untuk kabur ke rumah mertuanya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Tidak sampai 1×24 jam, polisi berhasil meringkus Dwi Saputra Mansyah. Keberadaan pelaku terdeteksi akurat melalui tracking satelit. Dari hasil pemeriksaan, polisi menyimpulkan tidak ada perencanaan awal terkait peristiwa berdarah tersebut. Pelaku mengaku biasa membawa senjata tajam dengan alasan keamanan diri.
Dwi mengaku menyesal atas kejadian itu. Namun ia mengakui sudah lama menyimpan dendam. “Saya baru tahu ketika sama-sama kerja di sini, bahwa dia (Saripudin) yang diduga menjadi penyebab ibu saya meninggal,” ujarnya.
Penulis: Riko Gondrong
Sumber : Tapase Media Nusantara

Tinggalkan Balasan